BONGKARSELATAN.COM, LAMPUNG TIMUR – Kondisi jalan menuju objek wisata Pemandian Bagul di Desa Bungkuk, Kecamatan Marga Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, menuai sorotan tajam dari warga. Jalan yang menjadi akses utama masyarakat dan pengunjung itu kini rusak parah, dipenuhi lubang, berlumpur, serta tergenang air saat huan turun, Jumat (15/5/2026).
Ironisnya, kerusakan jalan tersebut disebut sudah berlangsung cukup lama. Namun hingga kini belum ada perbaikan nyata, meski warga mengaku kepala desa sebelumnya pernah berjanji akan memperbaiki akses jalan tersebut.
“Janji mau diperbaiki sudah sering disampaikan, tapi sampai sekarang jalannya tetap rusak. Kalau hujan tambah parah, lubang tertutup air dan sangat membahayakan,” ujar salah seorang warga.
Tak hanya akses utama menuju Pemandian Bagul, jalan alternatif yang dibangun pada tahun 2023 juga kini mulai rusak. Badan jalan berlubang di sejumlah titik dan berubah seperti kubangan ketika hujan turun.
Warga menilai kerusakan jalan diperparah oleh lalu lalang truk bermuatan batu keriting dengan tonase berat yang melintas setiap hari. Minimnya pengawasan terhadap kendaraan bermuatan berlebih dinilai menjadi penyebab utama jalan cepat rusak.
“Baru beberapa tahun dibangun, sekarang sudah hancur lagi. Truk besar keluar masuk bawa batu dengan muatan berat, tapi seolah dibiarkan tanpa pengawasan,” keluh warga lainnya.
Pengendara roda dua menjadi pihak yang paling terdampak. Banyak pengendara mengaku harus ekstra hati-hati karena lubang jalan tertutup genangan air dan dapat menyebabkan kecelakaan.
“Kalau malam atau habis hujan sangat bahaya. Lubangnya tidak kelihatan karena tertutup air. Pengendara motor sering oleng dan hampir jatuh,” ujar seorang pengendara.
Keluhan lain datang dari warga yang setiap hari melintas untuk bekerja dan beraktivitas. Mereka mengaku kendaraan cepat rusak akibat kondisi jalan yang tidak layak.
“Shockbreaker cepat rusak, ban juga sering bocor karena jalan berbatu dan berlubang. Kami yang tiap hari lewat jadi korban,” ungkap warga.
Yang lebih disorot warga adalah adanya pungutan terhadap kendaraan yang melintas di jalur tersebut. Menurut pengakuan warga, setiap mobil yang melintas diminta membayar Rp5 ribu per hari. Namun pungutan itu dinilai tidak sebanding dengan kondisi jalan yang tetap rusak parah.
“Setiap mobil dipungut Rp5 ribu setiap hari, tapi jalan tidak pernah diperbaiki secara serius. Warga jadi bertanya uang itu sebenarnya dipakai untuk apa,” ungkap warga dengan nada kecewa.
Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya pengawasan serta kurangnya kepedulian terhadap keselamatan masyarakat. Padahal akses menuju lokasi wisata semestinya menjadi perhatian pemerintah desa maupun daerah karena berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi warga.
Sejumlah warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan janji, tetapi segera mengambil langkah nyata memperbaiki jalan dan menertibkan kendaraan bertonase berat yang melintas. Mereka khawatir jika terus dibiarkan, kerusakan jalan akan semakin parah dan memicu kecelakaan.
Sampai berita ini diterbitkan, pihak kepala desa belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pungutan Rp5 ribu per mobil yang dikeluhkan warga tersebut.
Persoalan jalan rusak sendiri masih menjadi perhatian di berbagai wilayah Lampung. Kondisi infrastruktur yang buruk dinilai tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan, terutama saat musim hujan.
(Mukmin/Red)
